Pemimpin itu Pelayan !

kursi raja

Pemimpin itu Pelayan !

(Rinai-rinai Cerita Episode Ketiga)

“Demi Allah!! Anda harus tetap duduk! Jangan berdiri”

Sumpah di atas yang disandingkan dengan permohonan agar tetap duduk diucapkan Umar bin Abdul Aziz kepada tamunya : Raja’ bin Haiwah, seorang ulama besar asal Palestina di masa tersebut. Malam itu Raja’ bin Haiwah datang bertamu dan menginap di rumah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz Sang Khalifah Adil.
Pelita minyak yang menerangi ruangan tempat mereka berbincang-bincang nampak mulai meredup. Raja’ bin Haiwah lalu berinisiatif untuk memperbaiki pelita tersebut. Saat Raja’ bangkit berdiri, Umar bin Abdul Aziz menahan beliau sambil mengucapkan sumpah di atas.
Raja’ bin Haiwah terheran-heran dengan sikap Sang Khalifah,

“Apakah Anda sendiri yang akan memperbaiki? Anda adalah seorang Amirul Mukminin…”

Umar bin Abdul Aziz tidak menanggapi pertanyaan itu. Beliau tetap bangkit berdiri untuk memperbaiki pelita minyak. Setelah selesai ,beliau menyatakan,

“Saat berdiri tadi, aku adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika kembali lagi, aku pun tetap Umar bin Abdul Aziz”

Subhaanallah! Luar biasa sekali sikap di atas! …”Aku adalah Umar bin Abdul Aziz,bukan karena telah menjadi Amirul Mukminin lantas Aku bukan lagi seorang Umar bin Abdul Aziz…”

Umar bin Abdul Aziz telah mencontohkan secara nyata kepada kita tentang sebuah sisi dari sikap Mengendapkan Rasa…Ya,rasa ingin selalu dilayani oleh orang lain adalah salah satu rasa yang mesti kita endapkan.Justru kita dituntut untuk selalu berpikir kemudian dilanjutkan dengan tindakan nyata, bagaimanakah melayani orang lain?

Dengan posisi sebagai seorang pemimpin besar Islam,Umar bin Abdul Aziz sejatinya layak untuk dilayani.Akan tetapi,beliau lebih memilih untuk merealisasikan sabda Nabi di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim (2588) ;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidak seorang pun bersikap merendah karena Allah melainkan ia pasti semakin ditinggikan derajatnya oleh Allah”

Pemimpin dengan jiwa melayani adalah dambaan setiap insan… Benar begitu, bukan? Apalagi saat-saat ini… Saat setiap mata dan telinga selalu disibukkan dengan calon pemimpin negeri… Siapapun pasti berharap, pemimpin terpilih esok waktu adalah seorang pemimpin yang berjiwa melayani, memperhatikan rakyat, tidak semena-mena, sederhana dan berusaha sederajat dengan rakyatnya.

Berbicara tentang pemimpin dambaan semacam di atas, pasti segera melambungkan kita kembali kepada kenangan manis Umar bin Khatab, Khalifah Kedua di dalam sejarah Islam. Sepatutnya setiap pemimpin meneladani sifat-sifat beliau yang sangat elok untuk diteladani.

Umar bin Khatab adalah tipe seorang pemimpin yang sangat peduli dengan rakyatnya.

“Andai saja seekor kambing mati di tepi sungat Furat karena tersesat jalannya,aku yakin Allah akan meminta tanggung jawabku pada hari kiamat nanti”, tutur beliau.

Bayangkan saja! Jangankan seorang warga… seorang rakyat… seekor kambing milik rakyat saja beliau nyatakan sebagai bagian dari amanat dan tanggung jawab beliau. Bukankah pemimpin semacam ini yang sedang kita cari?

Umar bin Khatab adalah seorang pemimpin yang berusaha untuk sama-sama merasakan penderitaan rakyatnya. Musim paceklik pernah menyerang… Hujan telah sekian lama tidak tercurah, tanah menjadi kering kerontang gersang dan kelaparan merata di mana-mana. Tahun itu dikenal dengan sebutan Tahun Ar Ramaadah.

Hanya roti gandum dan minyak dari susu sapi yang dimakan oleh Umar bin Khatab… Pemimpin tertinggi kaum muslimin…Seorang pemimpin dari daratan dan lautan yang membentang hingga separuh bumi… Hanya makan roti biasa dengan minyak dari susu sapi?

“Aku tidak sampai hati makan hingga kenyang… Sementara anak-anak kaum muslimin mengalami kelaparan”,demikian kata Umar untuk kita.

Semoga Allah merahmati Umar… Hati ini tergetar, jiwa ikut bergemuruh dan hampir saja kedua pelupuk mata basah tergenangi air mata ketika membaca kisah kecil di atas… Akankah ada pemimpin semacam beliau yang akan kita miliki ?
Umar bin Khatab adalah seorang pemimpin sederhana dan bersahaja.

Hurmuzan… seorang pejabat tinggi kerajaan Persia datang ke kota Madinah untuk menemui Umar bin Khatab..Dengan menggunakan pakaian mewah beserta atribut-atribut kerajaan,Hurmuzan diantar untuk menemui Umar yang sedang tidur beristirahat di dalam masjid.

“Dimanakah Umar?”,tanya Hurmuzan.
Para sahabat yang mengantar lalu memberikan isyarat, “Orang itulah Umar bin Khatab”
Hurmuzan heran,”Loh… dimana para pengawalnya”
“Umar tidak membutuhkan pengawal”, kata para sahabat.
Hurmuzan lalu mengatakan kepada Umar :
“Anda telah memimpin dengan adil sehingga Anda selalu merasa aman. Sehingga Anda pun dapat tidur dengan tenang”

Subhaanallah!
Pemimpin yang adil pasti dapat tidur dengan tenang.Ia akan selalu merasa aman walau tanpa pengawalan. Sebab… Allah lah yang akan menjaga dan melindunginya.. Bukankah pemimpin adil semacam ini yang sedang kita tunggu-tunggu?

Ah… kenapa kita juga belum tersadar ?
Apakah masing-masing kita tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang Pemimpin…? Kenapa setiap kali berbicara tentang Pemimpin, kita selalu membahas dan membicarakan orang lain?

Sekali lagi…. Anda adalah seorang Pemimpin… Walau lingkup dan areanya kecil dan tidak terlalu luas, namun sadarlah bahwa Anda adalah seorang Pemimpin… Keluarga, tetangga dan kawan-kawan Anda adalah rakyatnya…
Kenapa kita berharap muncul seorang pemimpin yang melayani? Seorang pemimpin yang peduli dengan rakyat? Seorang pemimpin yang adil? Seorang pemimpin yang bersahaja? Sementara kita sendiri pun seharusnya menjadi pemimpin yang demikian…

Kenapa tidak kita sendiri yang mewujudkannya? Istri Anda… anak-anak Anda… orangtua Anda… tetangga Anda… kawan-kawan Anda… bawahan dan pegawai Anda… Semuanya berharap agar Anda menjadi seorang pemimpin yang selalu melayani mereka, memperhatikan mereka, bersikap adil kepada mereka dan bersahaja dalam bersikap kepada mereka.
Mengapa benak kita selalu terpaku kepada pemimpin tertinggi di negeri ini? Lalu kita lupa bahwa kita pun ditugaskan Allah untuk menjadi seorang pemimpin…

Rasulullah bersabda di dalam hadist Abdullah bin Umar riwayat Bukhari dan Muslim ;

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه

“Masing-masing kalian adalah seorang pemimpin…Dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban nya pada hari kiamat nanti”

Ingat-ingatlah selalu bahwa Anda adalah seorang pemimpin! Oleh sebab itu, berusahalah belajar mengendapkan rasa “untuk selalu ingin dilayani”… Orang lain pun merasa senang dan tersanjung jika Anda melayaninya… Sering-seringlah memberi sebab kita pun sangat senang jika diberi… Hidup di dunia ini memang untuk saling berbagi dan memberi… Melayani dan dilayani…maka, marilah menjadi pelayan yang baik… Terutama kepada orang-orang yang kita cintai… Jangan karena merasa menjadi seorang pemimpin lantas selalu ingin dilayani…Sesungguhnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu melayani…

Contohlah Umar bin Khatab…Contohlah pula Umar bin Abdul Aziz…

 

00000___________________00000

 

_Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz_

_di tengah gelapnya di sebuah malam Ramadhan 1434 H_00.35_

dengan harapan membuncah_ya Allah ampunilah dosa hamba Mu ini_

Sumber : ibnutaimiyah.org

Iklan

Muhasabah: BERHIAS-HIASLAH! Untuk Hari AL AKBAR

kuburan

Oleh Ustadz Abu Nasim mukhtar bin Rifai

Saudaraku…

Membaca kembali lembaran-lembaran hidup dihari-hari yang telah berlalu, tentu akan mengundang tangis. Seolah tiap langkah tiada selamat dari perbuatan salah. Seakan tiap saat dikotori oleh maksiat. Waktu terbuang sia-sia dan kesempatan pun hilang.
Namun, tiada tangis seindah tangis tanda pertaubatan.

Tiap orang mampu menakar dan menghitung diri sendiri, jika ia mau. Ada Qalbu dan pikiran yang dipunyai. Mata untuk melihat, telinga demi mendengar, juga jiwa guna merasa. tiap-tiap hamba tentu bisa menimbang-nimbang,
“Manakah yang lebih sering aku perbuat, dosa ataukah ibadah?”

Lain hal jika Qalbu telah mati. Tiada ruh didalam jasadnya yang kasar. Ia tak lagi dapat membedakan abtara kebaikan dan keburukan. Bagai gelas yang terbalik, semua nasihat dan peringatan sudah tiada lagi berarti. Semua tertolak tiada yang membekas.

Shahabat yang mulia, Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kita dengan penuh kasih dan cinta,

“Hisablah(1) diri kalian sendiri! Sebelum kalian akan dihisab nantinya. Timbanglah diri kalian sendiri! Sebelum kalian akan ditimbang kelak. Sungguh, melakukan hisab saat didunia terhadap diri sendiri lebih ringan dibandingkan hisab pada hari kiamat nanti. Hias-hiasilah diri kalian untuk menyambut hari pertunjukkan akbar. Hari itu kalian akan dihadapkan kepada Allah, tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi bagi Allah.” (2)

Benar, saudaraku… 

Sungguh benar nasihat Al Faruq diatas! Lakukanlah hisab dan pertimbangkan amalmu sendiri selagi masih hidup didunia.

Muhasabah akan menolong seorang hamba dari jurang kehancuran. Menangislah dan berusahalah untuk menangis. Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu di kedua pipi beliau ada 2 garis menghitam yang membujur sebagai tanda tangisan.

Muhasabah akan membantu seorang hamba dalam menemukan dosa dan kesalahan yang ada pada dirinya. Sehingga ia akan mengambil langkah nyata untuk menghapus dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Muhasabah akan menggiring seorang hamba untuk mencari kekurangan dan cela yang ada pada dirinya sendiri. Agar ia bisa menutup dan menggantinya dengan amalan kebaikan.

Hias-hiasilah diri!

Dengan ibadah dan ketaatan. Jangan kotori dengan dosa dan kesalahan. Sebab, kita akan menghadap Allah rabb sekalian alam. Kita akan berdiri bersama-sama, bersama seluruh makhluk sejak Adam diciptakan, hingga makhluk yang terakhir yang diciptakan-Nya.

Pada hari itu tiada sesuatu yang tersembunyi. Pengadilan dan keadilan Allah benar-benar Maha Sempurna.

یَوْمَئِذٍ یَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُم فَمَنْ یَعْمَلْ مِثْقَا لَ
ذَرَّةٍ خَيْرًا یَرَهُ وَمَنْ یَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا یَرَهُ

Artinya: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
(QS: Al-Zalzalah: 6-8)”.

1. Hisab adalah perhitungan amal, antara kebaikan dan keburukan.
2. Al Muhasabah, Ibnu Abi Dunya hal 3

Catatanmms sadur dari Majalah QUDWAH Edisi 02/2012/ hal 88-89

Reblogged from: http://catatanmms.wordpress.com/2013/02/20/muhasabah-brhias-hiaslah-untuk-hari-al-akbar/

Peganglah tangan saudaramu, lalu tuntunlah ia memasuki surga…

pegangan

JADILAH PEMAAF

Suatu ketika Rasulullah sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa sehingga tampaklah gigi-gigi serinya. Maka sahabat beliau, Umar bin Khathab kebingungan dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apakah yang membuatmu tertawa?” Beliau menjawab, “Ada dua lelaki dari umatku yang dikumpulkan di hadapan Rabbul Izzah, Allah Azza Wajalla. Salah satu di antaranya berkata, ‘Wahai Rabb, ambilkanlah hakku yang dizhalimi oleh orang ini!’ Maka Allah berfirman, ‘kembalikan hak saudaramu yang telah engkau zhalimi!’ Orang itu berkata, ‘Wahai Rabb, tidak ada lagi kebaikan yang tersisa.’ Yang seorang lagi berkata, ‘Wahai Rabb, biarlah dia menanggung sebagian dari dosa-dosaku!’

Rasulullah mencucurkan air matanya kemudian bersabda, “Sungguh, hari itu adalah hari yang berat. Pada hari itu manusia perlu dipikulkan dosa-dosanya..”

Maka Allah berfirman kepada orang yang dizhalimi itu, “Angkatlah matamu dan perhatikanlah surga-surga itu!” Orang itu berkata, “Wahai Rabb, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana emas yang ditaburi mutiara. Untuk nabi, orang shaddiq, atau syahid yang mana semua ini?” Allah berfirman, “Ini semua untuk siapa saja yang membayar harganya.” Orang itu berkata, “Wahai Rabb siapa pula yang memiliki harganya?” Allah berfirman, “Engkau memilikinya.” “Dengan apa, wahai Rabb?” tanyanya. “Dengan pemberian maafmu kepada saudaramu.” “Wahai Rabb, aku telah memaafkannya.”

Allah berfirman, “Peganglah tangan saudaramu itu, lalu bawalah ia memasuki surga.”

Kemudian Rasulullah bersabda, ittaqullaaha wa ashlihuu dzaata bainikum, fa innallaaha ta’ala yushlihu bainal mu’miniina yaumal qiyamati. “Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah dan memperbaiki hubungan di antara sesama kalian, karena sesungguhnya Allah memperbaiki hubungan di antara orang-orang yang beriman pada hari kiamat.”
(Hadits Riwayat Hakim dari Anas bin Malik)

 

Sumber: http://adhwaus-salaf.or.id/jadilah-pemaaf/

Hijab Syar’i is My Choice

Dakwah Mus

Ketika iman sudah tertancap di hati seseorang, ketika datang perintah Allah dan Rasul-Nya, dia akan berkata, “Kami mendengar dan kami taat.” Sikap seperti inilah yang harus dikedepankan oleh setiap muslim dan muslimah terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman tentang orang-orang beriman,

“. . . dan mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat’,” (al-Baqarah: 285)

Dalam ayat lain Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. (al-Ahzab: 36)

Diantara kewajiban yang diperintahakan oleh Allah kepada setiap muslimah adalah memakai jilbab syar’i yang menutupi seluruh tubuh mereka. Perintah ini ditegakkan untuk kemaslahatan (kebaikan) mereka di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluan mereka, janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak, dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka . . .” (an-Nur: 31)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-amak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (al-Ahzab: 59)

Disebutkan dalam sebuah hadits, ketika Rasululah Sallallahu ‘alaihi wasallam memerintah para wanita untuk pergi ke tempat dilaksanakannya shalat id, seorang shahabiyah yang bernama Ummu ‘Athiyyah berkata, “Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab,” Beliau menjawab,

“Hendaklah saudarinya memakaikan (meminjamkan) jilbab kepadanya. (HR. Muslim no. 2093)

Dalam hadits yang lain, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menuturkan,

“Dahulu para wanita mukminah ikut shalat fajar (subuh) bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dengan menutupi tubuh mereka dengan kain. Selesai shalat, mereka kembali ke rumah mereka dan tidak ada seorangpun yang mengenali mereka karena suasana masih gelap.” (HR. al-Bukhari no. 578 dan Muslim no. 1491)

Wahai muslimah, tentu setiap muslim ingin menjalankan perintah Allah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah, sehingga amalannya terhitung sebagai amalan saleh yang kelak menjadi pemberat timbangan amalan kebaikannya. Hijab atau jilbab mempunyai ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Berikut syarat-syarat hijab dan jilbab yang syar’i.

1. Hijab harus menutupi seluruh tubuh.

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahuwata’ala,

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (al-Ahzab: 59)

Yang dimaksud jibab ialah kain yang lebar atau lapang yang dapat menutupi seluruh tubuh.

2. Hijab harus tebal, tidak tips, dan tidak transparan.

Dengan hijab seperti inilah upaya menutupi aurat tercapai. Sebaliknya, jika yang digunakan jika yang digunakan adalah pakaian yang tipis dan transparan, tidak tercapai tujuan menutup aurat yang diperintahkan oleh agama.

3. Hijab yang dipakai tidak mengandung perhiasan yang berlebihan sehingga menarik orang untuk melihatnya.

Hijab tersebut tidak diberi hiasan yang berlebihan dan yang semisalnya, agar tidak membuat orang lain terutama laki-laki tertarik untuk melihatnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya. (an-Nur:31)

Menampakkan perhiasan berlebihan maksudnya yang membuat semua pandangan orang tertuju kepadanya. Silahkan lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya asy-Syaikh al-Albani.

4. Hijab harus lebar, tidak sempit/ketat, sehingga tidak memperlihatkan lekukan tubuh.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat. Pertama sebuah kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia. Kedua, para wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Mereka berjalan berlenggak-lenggok (berjalan dengan menimbulkan fitnah/godaan). Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau harum surga, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 5704)

5. Tidak memakai wewangian.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu berjalan melewati sebuah kaum supaya mencium bau wanginya, maka dia adalah pezina.” (HR. Abu Dawud no. 4175, an-Nasa’i no. 5126, dan at-Tirmidzi no. 2786. Al-Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Hadits ini dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Tidak boleh memakai wewangian bukan berarti tidak boleh menjaga kebersihan tubuh. Seorang muslimah juga harus berpenampilan bersih, segar, dan rapi. Boleh menggunakan deodorant untuk menjaga aroma tubuh, dengan catatan tidak menimbulkan bau yang semerbak yang dapat menimbulkan syahwat bagi laki-laki yang mencium baunya.

6. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia seperti mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4033 dan Ahmad dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2831)

7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Syari’at melarang wanita memakai pakaian yang menyerupai pakaian lelaki. Hal ini dijelaskan dalam banyak dalil, diantaranya sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas,

“Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Begitu juga hadits dari Abu Hurairah,

“Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki. (HR. Abu Dawud no. 4100, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikhal-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5095)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Wanita tidak boleh memakai pakaian tasyabbuh (menyerupai) dengan pakaian laki-laki atau dengan pakaian pakaian wanita-wanita kafir . Dia juga tidak diperbolehkan memakai pakaian ketat yang menampakkan lekukkan tubuh dan menimbulkan godaan. Pantalon mengandung semua larangan diatas sehingga tidak diperbolehkan memakainya.” (al-Muntaqa 3/457)

8. Bukan pakaian syuhrah (pakaian untuk mencari ketenaran).

Pakaian syuhrah adalah semua pakaian yang dipakai dengan niat meraih kemasyhuran (ketenaran) ditengah-tengah manusia, baik berupa pakaian mewah (mahal) yang dikenakan untuk membanggakan dunia, maupun pakaian jelek yang dikenakan untuk menampakkan kezuhudan dan karena riya’. Silahkan lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya asy-Syaikh al-Albani.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam melarang pakaian syuhrah. Beliau bersabda,

“Barang siapa mengenakan pakaian (untuk mencari) kemasyhuran (ketenaran) di dunia. Allah akan mengenakan untuknya pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian Dia kobarkan api di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3607 dan Abu Dawud no. 4031, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-AlBani Shahihul Jami’ no. 6526)

Itulah beberapa ketentuan satau syarat hijab dan jilbab syar’i. Jilbab bukan sekedar kain yang dipakai sesuai dengan keinginan. Jilbab bukan dipakai agar pemakaianya gaul, modis, dan cantik dihadapan semua orang, terutama laki-laki. Jadi, apa yang dipilih oleh sebagian muslimah yang memakai jilbab masih jauh dari ketentuan jilbab yang syar’i. Kalau begitu katakanlah, “Yang kuinginkan hanya jilbab yang sesuai dengan syari’at.”

Wallahu’alam bish showab.

07/07/14

Rahasia Hati

bidadari-akhwat

Minggu, 02 Februari 2014. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan bagiku. Entah mengapa aku merasakan kegembiraan yang sangat ditengah kegalauan hatiku selama ini. Yaitu perjumpaanku dengan seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Seseorang yang mengingatkan ku akan sesuatu.

Padahal aku tak pernah menyangka bahwa hari ini aku akan berjumpa dengannya. Karena sebelumnya aku telah memiliki beberapa agenda yang telah ku rencanakan dengan matang. Namun qadarullah berkehendak lain. Dan apa yang terjadi hari ini merupakan rangkaian takdir yang telah digariskan-Nya.

Ketika satu persatu agenda tersebut dibatalkan, terlintas sebuah nama seseorang yang baru beberapa hari ku kenal melalui sms dan facebook. Tapi entah mengapa aku merasa ada sebuah magnet yang menuntunku untuk mengenalnya lebih jauh. Lalu ku putuskan untuk mengajaknya bertemu di sebuah tempat yang kami sepakati.

Ketika sedang menunggu di depan rumah makan, tak lama ku lihat ada seorang akhwat manis datang menuju kedalam. Hatiku bertanya, apakah dia orangnya. Seseorang yang berada di balik facebook itu. Seseorang yang membuatku penasaran. Lalu dengan insting dan kepercayaan diri aku menyapanya. Dan benar dialah orang yang ku tunggu-tunggu. Ukhty Tanti.

Di awal pembicaraan aku mengutarakan niatku bahwa ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya. Tentang sesuatu yang sangat prinsip dalam hidupku. Tentang sesuatu yang tidak semua orang dapat mengerti tentangnya. Dan aku merasa dia adalah orang yang tepat untuk berbagi tentang sesuatu yang tengah ku hadapi.

Entah mengapa pembicaraan hari ini mengalir begitu deras seperti aliran sungai. Jarang sekali aku berbicara dengan seseorang yang baru ku kenal tanpa ada sesuatu yang ku tutup-tutupi. Entah apakah aku tak dapat mengontrol pembicaraan atau karena aku sudah tak sanggup lagi memendam rahasia ini sendiri. Ya, rahasia hati yang telah bersemayam selama hampir satu tahun belakangan.

Semakin hari hatiku semakin meronta dan merintih. Walau semua orang melihat senyum dan tawa selalu tampak dari raut wajahku, namun tidak dengan keadaan hatiku. Ada sepenggal rasa yang ku simpan dibalik hati ini. Dan aku bingung harus sampai kapan aku menyembunyikannya. Mungkin aku bisa membohongi dunia, namun aku tak sanggup membohongi hatiku sendiri.

Sungguh, rahasia hati ini tak dapat ku bendung lagi. Aku tak sanggup lagi menjadi penipu ulung bagi diriku sendiri. Harus sampai kapan aku terus begini. Hidup di dalam dua sisi, antara keyakinan dan kenyataan yang saling berseberangan.

Sepertinya hatiku telah tertancap kuat oleh busur hidayah. Hidayah yang tak pernah kusangka sebelumnya. Hidayah yang membuatku merasa seperti manusia baru. Hidayah itu adalah Manhaj Salaf. Sebuah jalan kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang kujalani selama ini. Sebuah jalan dimana malamnya terang benderang seperti siangnya. Ia datang seperti bintang jatuh di kegelapan hatiku.

Disini aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Aku benar-benar merasakan kedamaian dan ketentraman yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Sebuah rasa yang tak dapat ku gambarkan dengan kata-kata. Ia dapat menjawab semua pertanyaanku selama ini. Ia dapat menjawab semua keraguanku selama ini. Dan keyakinanku berkata bahwa inilah jawaban yang selama ini kucari-cari.

Walau diluar sana banyak yang menghakimi bahwa Manhaj Salaf bukanlah manhaj yang tepat untuk diterapkan dimasa kini. Manhaj yang terlalu keras, kuno, dan intoleransi. Dan masih banyak pendapat-pendapat miring tentangnya. Karena kejadian ini hampir saja membuatku untuk pergi dan meninggalkannya.

Tapi lagi-lagi, sepertinya Allah berkehendak lain. Telah banyak cara ku coba untuk menjauh dari Manhaj ini. Tapi selalu ada saja tarikan dimana hatiku kembali tertaut kepadanya. Aku terkagum dengan keteguhan, keberanian, dan kezuhudan orang-orang yang menjalani Manhaj ini. Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, penerapan syariat yang tidak setengah-setengah, kejujuran dalam muamalah, akhlak yang luhur, dan sangat menjauhi ikhtilat. Lantas apa lagi yang ku cari dari Islam ini jika bukan Manhaj seperti ini? Mereka tidak mengambil agama ini melainkan dari apa yang telah dicontohkan oleh Salafus Saleh, jika bukan dari mereka dengan siapa lagi kita mengambil ilmu? Mereka bukanlah orang-orang yang serampangan dalam berbicara agama. Mereka bukanlah orang-orang yang berani dalam memodifikasi dan menginovasi ajaran agama. Mereka tidak akan berbicara melainkan yang telah jelas dalilnya. Mereka tidak mengajarkan ummat untuk fanatik kepada tokoh tertentu. Mereka menegakkan cinta dan benci karena Allah. Lalu Manhaj seperti apa lagi yang ku pilih kalau bukan Manhaj seperti ini. Sungguh Al-Haq itu benar-benar jelas di depan mataku.

Lalu kenapa aku dengan sangat mudah memceritakan rahasia hati ku ini dengan Ukhty Tanti. Karena aku dan dia berada dalam kondisi yang sama. Kami sama-sama sedang berjuang untuk menembus tembok pemisah antara Al-Haq dan Bathil. Walaupun secara zahir kami belum bisa dikatakan sebagai muslimah yang kaffah. Setidaknya hati kami telah terpaut dan terus berusaha untuk menuju ke arah yang lebih baik.

Mungkin perjuanganku belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan yang dilakukan oleh saudariku ini. Aku, merasa seperti kura-kura yang berjalan lambat karena beban tempurung yang begitu berat. Dan kurasa perjuangan Ukhty Tanti seratus langkah lebih maju dari pada perjuanganku. Memang benar apa yang dikatakan oleh para ummahat yang telah berpengalaman. Al-Haq itu tidak murah. Harganya mahal, butuh pengorbanan besar untuk medapatkannya.

Sungguh indah perjumpaan hari ini. Dan teman seperti inilah yang kucari. Teman yang semakin megingatkanku kepada Allah. Teman yang tidak hanya mengajak ke jalan yang baik tapi juga kepada jalan yang benar. Ukhty, Ana uhibbuki fillah.

Ya Allah, jangan kau lepaskan hidayah itu dari hati kami. Jangan matikan kami kecuali sebagai seorang muwahid dan mukminah. Ya Allah, kami tak tahu caranya bagaimana, tapi berikanlah kami petunjuk dengan cara-Mu.

By. Nuryulia

Palembang, Minggu, 2/2/14

22.24 Wib

Kaleidoskop

Image

Bismillahirohmanirrohim…

Hampir satu tahun aku berada di sini. Sungguh, aku merasakan kesamaran telah hilang berganti sesuatu yang sangat jelas seterang matahari di siang bolong. Perlahan dan perlahan tabir keraguan mulai hilang. Dan aku telah menetapkan jalannya di antara banyaknya jalan. Satu saja.

Setahun ini di atas pencarian jati diri ini, aku menemukan ketenangan. Karena semua yang jelas. Karena semua telah berdasar pada pegangan yang kokoh. Walaupun aku sadari banyak dan terlalu banyak rintangan yang menghampiri sejak mulanya sampai kini. Namun, Alloh jualah tempat ku bergantung. Hal ini tak seberapa, bahkan mungkin masih bisa disebut dengan sebelah mata. Ujian ini memang berat menurut perspektifku, namun begitu kecil di mata Alloh. Bukankah ujian itu adalah sebagai syarat untuk penseleksian siapa yang beriman dan bertakwa?

Setahun ini, awal mula yang banyak kuragukan sedikit demi sedikit hilang. Yah, aku percaya sesuatu yang penting dan sangat penting tentang firqotun najiyah itu adalah sesuatu yang jelas. Sesuatu yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja secara samar. Sesuatu yang di sana ada dasar yang juga jelas. Biarkanlah zaman mau berkata apa? Biarkanlah zaman mau mengatakan aku kuno dengan meneladani orang-orang terdahulu, namun zaman juga akan tahu bahwa menuntut untuk mengikuti zaman adalah kesiaan belaka. Karena dunia itu terlaknat, begitulah sabda Rasulullah sholallahu’alayhi wassalam. Aku bersyukur hidayah itu sampai padaku.

Di sini, aku telah memilih dan cukup satu saja. Di atas aqidah dan manhaj yang haq. Di atas Kitabullah wa Sunnah dan pemahaman para Salafush Sholih, insya’ Alloh..

Allohua’lam bishowab.

#GM

Aku dan Hijrah Ini

Image

Bismilllahirohmanirrohim…

 

Segala puji bagi Alloh yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan ampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak di ibadahi dengan hak kecuali Alloh yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Semoga sholawat beserta sallam tercurahkan atas Nabi kita, keluarga, sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

 

Maka sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baiknya petunjuk adalah Sunnah Rasululloh Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam. Sejelek-jeleknya perkara ialah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

 

Masihkah ingatan mu tentang pertemanan ini kawan. Tentang perjalanan kita menggapai ridho-Nya. Yah, aku yakin engkau masih ingat akan hal itu. Kawan, mungkin engkau jua yang menjadi rehatku di saat aku benci dengan segala pemikiran yang berkecamuk. Ingatkah saat aku sedang mengalami klimaks di atas segala hal yang memusingkan kepala ini. Aku bertindak egois pada kalian. Diam dan diam. Namun itu karena aku tak paham. Namun karena ilmuku hanya sedikit, sangat sedikit. Saat di siang itu memandang pantai dengan ombak yang berkejaran. Namun, kalian tetap tersenyum dan menguatkan aku. Aku hanya diam saja walaupun kalian mengajakkku tertawa.

 

Kawan, tahukah kalian. Gelisah itu memudar. Gundah itu menghilang saat aku telah menjadi bagian dari “ini”. Kurasa kalian tahu mengenai “ini”. Kawan, aku bahagia berjalan di atas manhaj sunnah Rasulullah. Tak pernah sebelumnya ketemui kebahagiaan seperti ini yang merasuk ke hati dan jiwa ku. Yah, atas kerinduan pada Allah dan Rasulullah sholallahu wa’alayhi wassalam aku memilih jalan ini. Aku tak peduli pada dengan sedikitnya orang. Aku tak pedulikan itu. Walaupun aku sendiri. Namun aku yakin Allah bersamaku.

 

Kawan, aku tak pernah berhenti dari dakwah. Sungguh tak pernah. Aku akan tetap berdakwah sesuai dengan Rasulullah ajarkan. Dakwah yang mengajak ketauhidan bukan pada yang lain. Aku baru memahami betapa penting arti tauhid itu. Yah, begitulah dakwah itu. Setiap manusia dengan beramal sholih maka baginya adalah untuk menyempurnakan dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Itulah hakikatnya dakwah. Aku tidaklah stagnan dalam dakwah ini. Hanya saja, mungkin karena kalian menganggapku telah tergantikan dengan yang lain. Tidak. Aku tak pernah digantikan dengan apapun. Aku adalah aku. Namun, aku menemukan sebuah oase baru yang selama ini aku mataku tertuju pada fatamorgana. Oase yang sebenarnya oase. Yang di sana kutemukan taman-taman pelepas dahagaku. Ialah ilmu yang haq dari Allah melalui jalan yang diajarkan oleh Rasulullah.

 

Kawan, aku tahu kalian tak pernah menjatuhkan aku. Ketika pertama kali kalian mendengarkan keinginanku tersebut, aku lihat dari mukamu kekhawatiran akan aku futur nantinya. Insya’ Allah, Dia akan menjagaku. Yah, tidakkah aku selalu memperhatikan kata-kata seorang sahabat, “Tetaplah istiqomah atau engkau akan menjadi sampah”. Sulit sekali mendefinisikan istiqomah. Kacamata mana yang akan dipakai untuk mendefinisIkan. Mungkin ada yang menilai bahwa aku tak istiqomah. Namun, kawan kebenaran hanya milik Allah. Dan ingatkah kalian pada sabda Rasulullah yang ini,

 

Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Alloh). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.”( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

 

Yah, aku berusaha menggigitnya dengan gerahamku. Mungkin juga ada yang akan mengatakan bahwa aku begitu kolot, kaku, dan tak fleksibel. Namun, tetap berjalan di atas sunnah adalah keselamatan di dunia dan di akhirat. Yah, Allah yang menguasai setiap perubahan zaman. Jika memang menganggap bahwa itu adalah zaman dahulu yang tak pantas diaplikasikan zaman sekarang, maka apa yang diajarkan Rasulullah adalah tak sempurna karena tak menguasai zaman? Apakah begitu? Allah yang menguasai zaman sejak Adam hingga nanti pada akhir zaman itu. Maka, untuk itulah tak ada ragu bagi hatiku untuk mengikuti manusia yang selalu aku rindu perjumpaan dengannya.

 

Kawan, maafkan aku yang sok tahu ini. Aku memang masih perlu banyak belajar. Aku yang bodoh ini tetap mengharapkan surga di atas surga. Tahukah kalian, yah adalah perjumpaan dengan Allah. Aku yakin kita punya tujuan yang sama. Aku masih ingat saat kita merencanakan bereuni dan bertetangga di sana. Kemudian bersama-sama mengucapkan, “Aamiin ya Rabb”.

Kawan, tak pernah aku menjauh dari kalian. Aku tetap merindukan kalian sebagai saudaraku sebagai sesama Islam. Aku tetap ingat pada pengalaman indah yang kita ukir bersama. Aku tetap ingat pada tujuan dan mimpi-mimpi kita yang telah siap kita gores bersama. Aku tetap ingat itu. Beda bukan penghalang. Dan aku yakin kalian mengerti. Aku mencintai kalian karena Allah. Barokallahu fikkum.

#GM